Tobat Ekologi: Muhasabah Mendalam Atas Bencana dan Kerusakan Alam

SHARE

Oleh Dr. Muslimah, M.Pd.I (Sekretaris PWA Kalteng)

Di berbagai daerah di Indonesia, kita menyaksikan bencana alam yang datang silih berganti—banjir, longsor, cuaca ekstrem, dan berbagai bentuk kerusakan lingkungan lainnya. Sebagai manusia beriman, setiap peristiwa semestinya menjadi ruang muhasabah, bukan saling menyalahkan. Bencana bukanlah hukuman untuk suatu tempat atau kelompok tertentu, melainkan panggilan lembut dari Allah agar seluruh umat manusia kembali kepada nilai kebaikan, keseimbangan, dan tanggung jawab terhadap bumi.

Bencana sebagai Pengingat, Bukan Penghakiman

Al-Qur’an mengingatkan bahwa musibah adalah bagian dari ujian kehidupan, juga sebagai cara Allah mengingatkan manusia agar lebih bijaksana. Allah berfirman:

 “Dan apa saja musibah yang menimpa kalian, maka itu disebabkan oleh apa yang telah diperbuat oleh tangan kalian sendiri. Dan Allah memaafkan banyak (kesalahan kalian).”
 (QS. Asy-Syura: 30)

Ayat ini bukan untuk mencari siapa yang salah, tetapi untuk mengingatkan diri kita sendiri bahwa manusia, secara kolektif, perlu kembali memperbaiki hubungan dengan alam. Allah bahkan menegaskan bahwa banyak dari kesalahan manusia telah Dia maafkan—menunjukkan sifat kasih sayang-Nya yang mendalam.

Tobat Ekologi: Kembali Menjadi Penjaga Bumi

Dalam Islam, bumi adalah amanah. Kerusakan lingkungan terjadi bukan hanya karena faktor alam, tetapi juga akibat kelalaian manusia dalam menjaga keseimbangan. Tobat ekologi berarti kembali menyadari tanggung jawab tersebut:

  • kembali menghormati alam,
  • menggunakan sumber daya secukupnya,
  • memperlakukan lingkungan sebagai bagian dari ibadah dan syukur,
  •  serta menyadari bahwa keseimbangan alam merupakan rahmat Allah yang harus dilestarikan.

Konsep ini sejalan dengan firman Allah:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).”
 (QS. Ar-Rum: 41)

Ayat ini mengajak manusia untuk kembali—bukan menyalahkan, bukan menghakimi, tetapi bermuhasabah dan memperbaiki diri.

Contoh Teladan dari Rasulullah

Rasulullah SAW memberikan banyak teladan tentang bagaimana memperlakukan alam dengan penuh kasih. Beliau bersabda:

“Tidaklah seorang Muslim menanam suatu tanaman, lalu tanaman itu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, kecuali itu menjadi sedekah baginya.”
(HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan betapa Islam menempatkan tindakan menjaga dan menumbuhkan kehidupan sebagai amal saleh. Menanam pohon, merawat air, menjaga udara, mengurangi kerusakan—semuanya bernilai ibadah.

Dalam hadis lain, Rasulullah berkata:

 “Sesungguhnya dunia ini hijau dan indah. Dan Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di dalamnya. Maka Dia melihat bagaimana kalian berbuat.”
(HR. Muslim)

Hadis ini menekankan bahwa menjadi penjaga bumi adalah amanah spiritual.

Muhasabah untuk Kita Semua

Tulisan ini bukan untuk menuding wilayah tertentu atau mengaitkan bencana hanya dengan suatu tempat. Justru sebaliknya—ini adalah ajakan untuk bermuhasabah bersama terutama diri penulis probadi.
Bencana membuat kita menyadari:

  • Bahwa alam perlu dijaga bersama,
  • bahwa perilaku kita sehari-hari—sekecil apa pun—berpengaruh terhadap keseimbangan bumi, dan bahwa Allah menginginkan hamba-Nya selalu kembali pada kesadaran hidup yang selaras dengan ciptaan-Nya.

Tobat ekologi bukan sekadar konsep, tetapi panggilan untuk mengubah sikap, memperbaiki kebiasaan, dan mengembalikan harmoni antara manusia dan lingkungan.

Semoga setiap ujian menjadikan kita lebih bijaksana, lebih dekat kepada Allah, dan lebih peduli terhadap bumi yang menjadi tempat tinggal kita bersama.